Kelas Demokrasi: Bawaslu Jateng Ingatkan Ancaman Hoaks dan Deepfake AI
|
Cilacap- Generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas demokrasi, tidak hanya melalui hak pilih, tetapi juga dengan berpartisipasi aktif mengawasi proses pemilu dan menangkal penyebaran informasi bohong.
Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Wahyudi Sutrisno, menegaskan bahwa generasi muda harus mengambil peran dalam menjaga kualitas demokrasi, terutama di tengah perubahan pola komunikasi politik yang semakin bergantung pada teknologi digital.
Dia menilai perkembangan teknologi digital makin masiv, ancaman hoaks, ujaran kebencian, hingga manipulasi video berbasis kecerdasan buatan atau *deepfake* menjadi tantangan yang perlu diantisipasi bersama.
“Anak muda hari ini tidak hanya menjadi penonton, tetapi akan menjadi penentu,” ujar Wahyudi saat membuka Kelas Demokrasi yang digelar Bawaslu Cilacap secara hybrid, Rabu (14/10/2026).
Menurut Wahyudi, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara informasi politik diproduksi dan disebarluaskan. Media sosial memungkinkan informasi menjangkau masyarakat dengan cepat. Namun, kemudahan tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, dan konten manipulatif yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap peserta pemilu.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat video palsu yang semakin sulit dibedakan dari rekaman asli. Dalam konteks pemilu, teknologi tersebut berpotensi disalahgunakan untuk menyerang lawan politik melalui kampanye negatif.
“Video AI itu semakin mirip,” ungkap Wahyudi saat menjelaskan perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang membuat masyarakat semakin sulit membedakan konten asli dan hasil manipulasi.
Dia mengingatkan masyarakat yang belum memiliki literasi digital memadai dapat dengan mudah mempercayai konten palsu. Karena itu, generasi muda yang akrab dengan teknologi diharapkan turut membantu meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi politik.
Selain ancaman manipulasi berbasis kecerdasan buatan, Wahyudi menyoroti penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang kerap muncul dalam kontestasi politik. Menurutnya, penyebaran informasi bohong melalui media digital dapat berlangsung jauh lebih cepat daripada klarifikasi yang dilakukan untuk meluruskan
informasi tersebut.
“Kenapa pencegahan terhadap berita itu jauh lebih penting daripada kita mengklarifikasi?” tegasnya.
Wahyudi pun mengajak mahasiswa untuk mengambil langkah nyata dalam menghadapi persoalan tersebut. Dia mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadi pengguna media digital, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab dalam menjaga kualitas informasi di ruang publik.
“Yang pertama adalah saring sebelum sharing,” pesan Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa itu.
Ia juga berharap mahasiswa berani meluruskan informasi bohong yang ditemukan di lingkungan sekitarnya serta melaporkan dugaan pelanggaran pemilu kepada pihak yang berwenang, termasuk Bawaslu. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu dapat berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.
Menurut Wahyudi, tantangan pengawasan pemilu ke depan tidak hanya berkaitan dengan penyebaran informasi digital. Potensi praktik politik uang melalui transaksi digital juga perlu diantisipasi karena modusnya dapat semakin beragam dan tidak selalu mudah dikenali secara langsung.
Keterlibatan generasi muda menjadi penting untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Mahasiswa diharapkan mampu membangun budaya politik yang kritis, menolak penyebaran informasi menyesatkan, serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengawasan pemilu.
Sebagai informasi, Kelas Demokrasi merupakan salah satu program Bawaslu Cilacap untuk membangun kesadaran para mahasiswa terhadap isu demokrasi dan pengawasan pemilu. Pada jilid pertama ini, Bawaslu Cilacap menghadirkan 16 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi yang ada di Cilacap yakni Politeknik Negeri Cilacap (PNC), Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA), dan STIE Muhammadiyah Cilacap.
Humas Bawaslu Cilacap