Lompat ke isi utama

Berita

Antara Jamaah dan Jam’iyyah: Tantangan Besar NU di Demokrasi Modern

cwdvebbrfgreerc

Ketua Bawaslu Cilacap Soim Ginanjar

OPINI

oleh Ketua Bawaslu Cilacap Soim Ginanjar

Bagi yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dinamika sosial maupun politik selalu terjadi bahkan dari muktamar ke muktamar bukanlah suatu drama yang mengejutkan. Alasannya sederhana NU adalah drama itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Selalu ada elemen of surprise baik kejutan kecil atau besar, letak terdugaan yang diinginkan atau tak diharapkan yang mewarnai perjalanan panjang NU sejak dulu sampai sekarang.

NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif, iya juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keragaman pemikiran serta cara pandang. Dalam rahim NU lahir banyak ulama dan pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari liberal, pluralis, hingga konservatif islamis.

Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah kesejatian ekosistem NU, yang terkadang menampilkan wajah ambigu. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal, dalam ranah politik misalnya relasi NU dengan negara tidak pernah ajeg. Kadang NU menjauh, kadang juga mendekat. Pada masa orde lama NU begitu mesra dengan Soekarno dan menganugerahinya gelar waliyul Amri.

Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Iya tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah, perilaku politik NU pada era 70-an sebagai poros melawan arus mempunyai kecenderungan umum relasi antara ormas dengan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru, kala Soeharto memindahkan bandul kebijakannya dengan mendekati kelompok Islam modernis, NU dibawah Gus Dur saat itu malah enggan menyambutnya.

NU selalu punya segepok alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzag. Pengamat yang tidak paham NU, akan gampang mengobral tuduhan bahwa NU didalam dirinya memiliki karakter opportunis. Bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan sumir itu. Apa yang pihak lain sebut sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU . Dalam dramaturgi NU, hasil akhir menjadi susah ditebak menganalisa NU secara temporal bisa terperangkap dalam jebakan target yang selalu bergerak.

Dunia tidak pernah menyangka NU yang pada sidang konstituante tahun 1950-an menjadi pihak paling keras menyuarakan formalisasi Syariah Islam dan menuntut kelembagaan ulama dalam negara justru sekarang menjadi gawang substansial Islam tanpa campur tangan negara. Siapapun pihak yang berupaya mengubah konstitusi Indonesia dengan memaksakan piagam Jakarta misalnya harus melangkahi mayat NU terlebih dahulu.

Metamorfosis NU inilah yang membuat kebhinekaan kita seperti mendapat jaminan dunia akhirat, inilah amal jariyah terbesar NU bagi bangsa yang majemuk. Kekecualian NU yang sulit ditandingi ormas yang lain adalah secara statistik berdasarkan data Lembaga Survei Indonesia dan Indikator Politik Indonesia sejak 2003 sampai 2015 responden yang mengaku sebagai warga NU mencapai 45% dari seluruh populasi muslim di Indonesia. Jumlah ini terus bergerak semakin banyak jika dinyatakan kedekatan secara kultural ada 60% yang mengaku dekat secara kultural keagamaan dengan NU.

Bisa dibayangkan bagaimana keadaan hari ini yang secara statistik hal ini jelas membantah perkiraan banyak pengamat dari dalam maupun luar negeri yang selama ini selalu mengecilkan jumlah warga NU yang hanya Mereka melihat terkonsentrasi di Jawa Tengah dan juga Jawa Timur. Data statistik elektoral selalu bergerak baik di Jawa maupun di luar Jawa hal inilah yang menjadi daya tarik elektoral di mata politisi. Jika keunggulan komparatif ini tidak diikuti dengan keunggulan kualitatif sumber daya manusianya NU akan selalu menjadi objek bukan sebagai subjek dalam konteks demokrasi dan pemilu.

Survei di atas juga menemukan bahwa warga yang mengaku secara kultural dan emosional dekat dengan warga tradisi NU tidak pernah. Berbeda dengan warga ormas lain yang banyak melepaskan identitas partikularnya sebagai bagian dari ormas tertentu seiring dengan maraknya new Islamic movement seperti gerakan tarbiyah atau Hizbut tahrir sejak dekade 1980-an. Jamaah NU selalu memiliki basis pertahanan cultural yang kuat dan tangguh ritus-litusnya seperti tahlilan berjanji manakiban dan lain-lain berhasil membentengi umat dari pengaruh gerakan Islam transnasional dan menjaga identitas ke NU-an mereka.

Saiful Muzani pernah menemukan bahwa ritual nahdiyin inilah yang menjadi modal sosial demokrasi Indonesia karena ibadah jenis ini memiliki dimensi kolektivisme sosial yang menjadi intisari demokrasi yang partisipatif sekali lagi inilah NU warganya yang aktif dalam ritual nahdin cenderung mendukung demokrasi dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas sosial di masyarakat. Meski NU bukan organisasi pluralis karena anggotanya terbatas bagi yang beragama muslim saja, NU tidak menciptakan ide atau gagasan untuk memusuhi agama yang lain. Tingkat toleransi warga NU yang relatif tinggi ini bisa bermata dua di satu sisi warga NU menjadi eksemplar Islam yang ramah tapi toleransi ini juga membuat Mereka cenderung menerima ing pandum atas ketidakmampuan pemerintah atau pengurus NU dalam meningkatkan kesejahteraan jamaah.

Tugas utama NU sekarang adalah tidak sekedar mengandalkan keunggulan masa tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya warganya. Peran sosial NU dalam menyediakan jasa pendidikan ataupun kesejahteraan sosial harus selalu ditingkatkan sebelum beranjak jauh tentu saja setiap residu pergerakan harus dihilangkan, jangan sampai fraksionalisasi dalam arena muktamar ataupun arena-arena yang lain secara resmi terus berlarut-larut.Jika dibiarkan berlarut ini tidak hanya merugikan NU tapi juga bagi bangsa Indonesia. Meminjam istilah kyai haji Mustofa Bisri NU jangan sekedar bertumpu pada jamaah tapi juga bisa menjadi Jam'iyyah (sistem). Karena dengan menjadi Jam'iyyah yang kuat NU tak lagi dilihat sebagai kerumunan tapi barisan bukan sekedar buih tapi merupakan gelombang sosial yang berpengaruh besar terhadap setiap sendi-sendi pergerakan perubahan kemakmuran bangsa dan juga negara.