Lompat ke isi utama

Berita

Mengolah Hasrat, Menemukan Fitrah: Jalan Pulang Pasca-Ramadan

idul fitri

Ketua Bawaslu Kabupaten Cilacap Soim Ginanjar

OPINI

oleh Soim Ginanjar, Ketua Bawaslu Cilacap

Mengurai kesenangan adalah jalan indah yang sudah menjadi kodrat manusia. Pada tataran harfiahnya, mengolah kesenangan merupakan kehendak sekaligus menjadi problem eksistensial tersendiri. Terlebih ketika endapan yang begitu lama diam dan ajeg secara konstan harus berlari ke sana kemari menemukan titik sumbunya. Sebagaimana “wujud dan struktur molekul; minyak dari hidrokarbon cair pecah dan bereaksi dengan oksigen di udara, molekul ini berubah menjadi gas baru, yaitu karbon dioksida dan uap air.”

Minyak tidak hilang, tetapi massanya berubah menjadi gas dan karbon padat. Jika dilakukan penimbangan secara tertutup, total massanya tetap sama. Namun, di ruang terbuka, minyak terlihat seolah-olah habis. Pada kenyataannya, semua energi mengalami perpindahan dan perubahan dari satu wujud ke wujud lain—dari yang pasif menjadi energi yang aktif serta mampu memberikan dampak, sebagaimana minyak mampu menerangi sekaligus membakar. Oleh karena itu, tugas eksistensial kita sebagai manusia adalah melakukan operasi penyelamatan berupa pengendalian agar tidak menjadi energi yang destruktif.

Pada abad ke-15, Eropa mengalami dorongan kuat untuk mencari jalur perdagangan baru menuju Asia. Rempah-rempah bernilai sangat tinggi, sementara emas dan komoditas menjadi simbol kekayaan. Selain itu, semangat memperluas kekuasaan dan menyebarkan agama turut menggerakkan ekspansi besar-besaran. Gold, glory, dan gospel menjadi tiga dorongan besar yang membentuk arah sejarah.

Ambisi bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Ia bisa menjadi energi, bisa menjadi daya dorong kemajuan. Tanpa ambisi, manusia tidak bergerak; tanpa keinginan, peradaban tidak berkembang. Namun, alih-alih kekayaan menjadi tujuan utama, manusia bisa melupakan keadilan. Ketika kejayaan menjadi obsesi, manusia dapat mengabaikan kemanusiaan. Ketika misi agama tidak diiringi akhlak, ia bisa berubah menjadi legitimasi penindasan. Di sinilah puasa menjadi kompas yang melatih kita menahan keinginan serta mengajarkan bahwa tidak semua hal harus ditunaikan.

Secangkir kopi itu;

Resonansinya telah bergeser. Pada pagi yang sendu, seduhan kopi mulai membisikkan aromanya, menjadi pertanda kehidupan telah bergeser sekaligus berganti. Ada laku dan kebiasaan yang berbeda ketika matahari mulai naik untuk menyapa manusia dengan penuh semangat. Begitulah secangkir kopi menyapa suasana pagi sebagai gambaran bahwa Ramadan telah usai—selamat datang bulan kembalinya manusia kepada kesucian.

Setelah sebulan penuh menjalani puasa dan latihan rohani di bulan Ramadan, tibalah Idulfitri. Begitulah kebanyakan orang menyebutnya sebagai masa pasca-Ramadan, atau secara umum dikenal sebagai hari kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu selama bulan Ramadan.

Hari yang kerap dimaknai sebagai hari kemenangan bukanlah sekadar euforia, melainkan keberhasilan kerja keras dalam mendisiplinkan diri guna meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara sosial, Idulfitri juga merupakan waktu untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Tradisi berjabat tangan dan mengunjungi keluarga serta kerabat bertujuan untuk menghapus kesalahan antarsesama manusia agar semua kembali harmonis.

Idulfitri menjadi peristiwa yang melampaui makna itu sendiri karena mampu bertransformasi menjadi kekuatan sosial serta perekat persatuan bangsa dan negara. Tradisi saling memaafkan memberi ruang pembersihan hati secara kolektif dari rasa dendam sejarah maupun akibat perbedaan pandangan politik maupun sosial lainnya. Perayaan Idulfitri menjadi dalil penguatan jati diri bangsa; karenanya, cerminan identitas warga negara yang religius sekaligus toleran mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Memaafkan Kehendak, sebagai penutup;

Orientasi hidup saat ini setidaknya secara konstan menimbulkan pemahaman literasi bahwa roda informasi berputar pada lintasan opini yang bergerak lebih cepat daripada empati. Padahal, semua tokoh besar—baik yang kita simpati maupun tidak—tidak pernah lahir dari ruang steril. Mereka dibentuk oleh kemiskinan, oleh integrasi sosial yang tidak diinginkan, hingga dikepung oleh orang-orang yang mengkhianati persekutuan ideologi.

Tentu kita tidak ingin membawa semuanya pada bab demikian, karena setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun, setidaknya kita menjadi mengerti bahwa ada letupan sejarah semacam itu, yang dengannya kita sebagai manusia dapat lebih mudah untuk memaafkan.

Banyak hal yang harus dimaafkan dalam episode sosial yang berkelanjutan. Saking terbatasnya manusia secara hakiki, sering kali ia bertempur dengan keinginannya sendiri. Rencana dibuat sendiri, proses dilakukan sendiri, namun anehnya di ujung cerita justru menyalahkan diri sendiri. Sungguh, manusia memang dikaruniai sifat suka mengeluh dan menyalahkan keadaan. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ma’arij ayat 19: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.”

Kehendak dasar inilah yang oleh substitusi sosial dipaksa untuk segera bergeser orientasinya—dari yang bersifat material menuju spiritual, dari orientasi formalistik menuju orientasi hasil, dari rutinitas mekanis menuju kesadaran akan kehadiran dan kebermanfaatan.

Ada pola yang secara gradual harus mengalami reformasi dalam memaknai Idulfitri sebagai karunia Tuhan yang dipersembahkan dan didialektikakan secara sosial. Dengan Ramadan sebagai basis madrasah, manusia ditempa sedemikian rupa dengan tujuan menurunkan egosentrisme kemanusiaan agar kembali meneladani sifat-sifat ketuhanan—salah satunya menahan diri dari makan dan minum. Proses tersebut dimaksudkan agar manusia mengalami mi’raj atau kenaikan level spiritual.

Sehingga, bekal Ramadan diharapkan mampu bertahan dalam menghadapi dunia pasca-Ramadan yang penuh dengan orientasi fisik dan material.

Harapan yang begitu membumbung tinggi tersebut diamini oleh kehendak alam berupa pemberian “kesucian/fitri”, atau yang kita kenal sebagai Hari Raya Idulfitri. Ringan dan fleksibel, setelah manusia kembali pada fitrahnya. Namun, syarat paling sederhana untuk mencapai itu adalah manusia harus mampu memaafkan—terutama diri sendiri—atas keadaan yang mungkin tidak sesuai harapan. Setelah itu, barulah memaafkan hal-hal di luar dirinya.

Banyak hal yang harus dimaklumi, termasuk diri kita sendiri, agar nalar egoisme yang dibangun tunduk pada kehadiran Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu, termasuk kehidupan yang sedang kita jalani