Utopia Ramadhan
|
OPINI
oleh: Soim Ginanjar, Ketua Bawaslu Cilacap
Di dunia praktis sehari-hari, ketidaktahuan adalah jembatan menuju defisit popularitas. Namun, bagi kebanyakan orang Islam, justru menjadi arena pertempuran spiritual seorang hamba. Lailatul Qadar, atau yang biasa dikenal di kalangan umum sebagai wahana menuju malam seribu bulan, meletakkan ketidaktahuan sebagai langkah pembuka menuju babak baru ketenangan, namun tetap harus dominan dalam menuntaskan visi.
Seringkali ketidaktahuan menjadi momen transisi atas rapuhnya dominasi sebuah langkah. Bagi Lailatul Qadar, hal itu justru tidak berlaku demikian. Ia menjelma menjadi basis pengetahuan yang transformasinya sulit dijangkau, seakan selalu menulis ulang aturan main. Lailatul Qadar adalah efek dari ketidaktahuan manusia secara utuh tentang apa dan bagaimana cara mencapainya. Namun, dari situ, ketidaktahuan seolah hanya menjadi perpindahan panggung, bukan kehilangan tongkat komando.
Keunikan yang sering kita dengar di bulan Ramadan seolah menjadi kursus singkat tentang bagaimana mengolah keinginan dalam ketidaktahuan, namun tetap menjadi pusat gravitasi meski tanpa aturan baku komposisinya. Kuncinya bukan pada gertakan semata, melainkan pada kegeniusan kontrol diri dan kematangan mental-spiritual yang terus berharap kepada Yang Kuasa. Ini merupakan seni menjemput ketidaktahuan seorang hamba demi mendapatkan riuhnya legitimasi spiritual.
Keberlanjutan yang memenuhi alam semesta adalah kemungkinan yang kehadirannya menjadi legitimasi pengetahuan akan eksistensi. Meskipun hal itu dianggap ketidaktahuan, sejatinya pengetahuan tentang kehadiran ketidaktahuan adalah pengetahuan itu sendiri. Namun dalam perjalanannya, pengetahuan akan kehadiran ketidaktahuan mengalami alienasi, karena derivasi kurang mampu memberikan “block attack” terhadap persoalan yang datang silih berganti.
Ia hadir sebagai sistem paling dasar dalam genealogi ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan kehadiran, atau dalam bahasa psikologisnya: hasrat ingin tahu yang mendalam dan terus berkembang demi menjawab tuntutan kebutuhan akan ilmu dan kehidupan. Penulis hendak menyampaikan secara gamblang bahwa sebenarnya ketidaktahuan adalah ilmu kehadiran itu sendiri. Dibutuhkan suksesor yang kuat agar mampu menuntun ketidaktahuan menjadi agenda kognitif, serta sinkronisasi yang mendalam antara dua ujung: ketidaktahuan dan kehadiran.
Merawat ego adalah jalur alternatifnya—pencapaian paling rumit ketika sejarah melakukan rotasi dan manuvernya, mampu memberikan efek kejut, memenangkan “perang dingin” dengan segala lawannya. Melalui deep cleaning yang rapi, disertai dukungan kuat dari dalam diri, kedaulatan batin diarahkan untuk mencapai Lailatul Qadar sebagai teks puncak keilmuan.
Ketidaktahuan menjadi jalan untuk merotasi bayang-bayang; ia menciptakan tata surya pendakian pengetahuan itu sendiri. Ketenangan yang konsisten secara psikologis menciptakan cognitive dissonance, yaitu pertentangan batin antara narasi penghakiman diri (ketidaktahuan) dengan kenyataan yang harus dihadapi secara tenang, demi menuntaskan ketidaktahuan menjadi agenda perang abadi melawan kebodohan.
Ramuan ketidaktahuan yang dicampur dengan ketenangan memungkinkan setiap orang membuka jalur sumbatan ilmu pengetahuan dengan lebih mudah. Lailatul Qadar, menurut keyakinan penulis, adalah frasa keberlanjutan indah dan misteriusnya bulan Ramadan. Semua orang bergemuruh mengumandangkan, bahkan mendendangkan setiap inci tentang Ramadan.
Namun, pada klaim selanjutnya, di tengah belum usainya bulan Ramadan, Tuhan menyelipkan cerita epik: ada peristiwa penting yang selalu diceritakan oleh para penerus lidah agama. Bahkan, belum tentu juga yang tengah bercerita di hadapan lautan massa telah mendapatkan Lailatul Qadarnya.
Khasnya agama memang demikian—selalu menyisakan misteri yang tidak bisa didikte oleh supremasi atau legitimasi apa pun. Secara sederhana, penulis meyakini bahwa teks Lailatul Qadar merupakan duplikasi betapa luasnya rahmat Allah. Sesuatu yang sudah memiliki teks saja belum tentu mampu digapai manusia.
Selamat datang, manusia—makhluk yang kehadirannya serba terbatas, namun diajak Tuhan untuk berlari menemukan sesuatu yang tidak terbatas. Normanya adalah pencapaian fisik, namun etikanya dibangun berdasarkan kekuatan spiritual.
Selamat datang Lailatul Qadar, puncak ilmu dan kesadaran batin.