Lompat ke isi utama

Agenda

Segitiga Hirarki Kebutuhan ala Maslow dan Wajah Demokrasi Kini

penguatan dafam2

OPINI

Oleh: Soim Ginanjar

Ketua Bawaslu Kabupaten Cilacap

Kehidupan manusia selalu bergerak menuju titik kesempurnaan yang diidealkan. Setiap individu, sadar atau tidak, menyiapkan kerangka hidup untuk menopang fase-fase yang akan dijalani. Sebesar apa pun tujuan yang ingin dicapai, pada akhirnya manusia tetap akan bersandar pada satu titik akhir. Karena itu, memahami proses dan tahapan hidup menjadi penting agar setiap langkah memiliki arah yang jelas.

Salah satu kerangka paling relevan untuk membaca proses tersebut adalah teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Teori ini menjelaskan bahwa kebutuhan manusia tersusun secara bertingkat, mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi. Setiap tingkat kebutuhan saling berkaitan dan menjadi fondasi bagi tahap berikutnya.

Maslow menempatkan kebutuhan fisiologis sebagai dasar utama kehidupan manusia. Kebutuhan ini meliputi makanan, minuman, udara, pakaian, dan tempat tinggal. Kebutuhan fisiologis bersifat mutlak dan tidak dapat ditawar, karena tanpa terpenuhinya kebutuhan ini, manusia sulit bertahan hidup dan mustahil melangkah ke tahap kebutuhan yang lebih tinggi.

Setelah kebutuhan fisik relatif terpenuhi, manusia membutuhkan rasa aman. Rasa aman mencakup stabilitas hidup, keteraturan, perlindungan, serta kepastian masa depan. Tanpa rasa aman, manusia akan terus berada dalam kecemasan, sehingga energi hidupnya habis untuk bertahan, bukan berkembang.

Tahap berikutnya adalah kebutuhan sosial. Pada fase ini, manusia membutuhkan relasi, afeksi, keluarga, dan pengakuan sebagai bagian dari komunitas. Kebutuhan sosial memberi makna emosional dan memperkuat identitas seseorang sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain.

Setelah itu, manusia membutuhkan penghargaan. Penghargaan berkaitan dengan status, reputasi, tanggung jawab, dan pengakuan atas proses serta pencapaian yang telah dilalui. Pada tahap ini, manusia tidak hanya ingin hidup dan diterima, tetapi juga dihargai atas perjuangan dan kontribusinya.

Puncak dari hierarki kebutuhan Maslow adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan kondisi ketika manusia mampu mengembangkan potensi terbaiknya secara utuh. Pada tahap ini, nilai, gagasan, dan idealisme menjadi dorongan utama dalam bertindak, bukan semata kebutuhan material.

Meski teori Maslow tidak selalu berjalan secara linear, satu hal menjadi jelas: manusia memahami dengan sadar bahwa setiap kenaikan tahap membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Semakin tinggi posisi yang ingin dicapai, semakin besar energi, waktu, dan sumber daya yang harus dikeluarkan.

Kerangka ini relevan untuk membaca persoalan demokrasi, khususnya perdebatan tentang Pilkada langsung dan tidak langsung. Salah satu kritik utama terhadap Pilkada langsung adalah tingginya biaya politik. Dalam konteks Maslow, jabatan dan kekuasaan berada pada level penghargaan dan aktualisasi diri, yang secara logis menuntut prasyarat terpenuhinya kebutuhan di tahap-tahap sebelumnya.

Demokrasi, sebagaimana manusia, membutuhkan kematangan. Indonesia sebagai negara yang telah berusia matang dituntut untuk lebih bijak dalam merumuskan kebijakan demokrasi. Apa pun model demokrasi yang dipilih, tugas penyelenggara di daerah adalah memastikan kebijakan tersebut berjalan dengan tertib, adil, dan bertanggung jawab. Pada titik inilah demokrasi tidak hanya menjadi prosedur, tetapi juga cermin kedewasaan bangsa.

Agenda